Selamat Datang di Website Resmi Pusat Unggulan IPTEK Ikan Hias     Jam layanan laboratorium uji (Senin-Kamis: 07.30-14.30 WIB) dan Jumat (08.00-15.00 WIB)     Dirgahayu Republik indonesia     Selamat Kepada Dr. Nina Meilisza S.Pi, M.Si Sebagai Pemakalah Terbaik Seminar Hasil Riset Perikanan Tahun 2019
Potensi Cupang Kalimantan Gaet Penghobi


Cupang yang dikenal merupakan ikan dengan keunikannya ini juga diunggulkan dari endemik Kalimantan dengan harga yang sangat menggiurkan  Bagi penghobi ikan hias, khususnya ikan hias air tawar, tentulah tak mungkin tak kenal cupang (Betta sp.). Ikan hias berukuran kecil ini rata-rata banyak dijual pedagang ikan hias dengan harga yang cukup murah. Namun, untuk beberapa jenis, ikan ini dihargai cukup mahal karena keunikan coraknya. Dan jenis-jenis ini yang biasanya menjadi incaran penghobi untuk menghiasi akuarium.


Diantara beragam ikan hias yang menjadi incaran penghobi sekaligus pembudidaya ikan hias, Betta channoides menjadi salah satu cupang yang potensial. Diungkapkan Kepala Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok-Jawa Barat, Idil Ardi, satu pasang cupang bercorak unik ini bisa dihargai Rp 300 ribu.


Rerata yang banyak beredar di masyarakat, cupang ini merupakan ikan hasil tangkapan alam. “Cupang ini salah satu pemikatnya juga merupakan cupang endemik Kalimantan. Sehingga memiliki corak yang khas dan unik,” ungkap Idil. Dalam perkembangannya, tambah Idil, cupang ini pun sudah bisa dibudidayakan. Dia pun menceritakan bagaimana teknologi untuk mendomestikasi ikan ini agar bisa dibudidayakan.


 “Cupang ini sudah bisa dipijahkan di tempat yang terkontrol, yang awalnya dari alam tim kita bawa ke sini (BRBIH). Awalnya kita adaptasikan untuk dapat F 1 nya. Kalau domestikasi, kestabilan baru ditemukan di F2 nya. Jika dilihat F2nya apakah dia bisa memijah dan banyak seperti di alam, kalau sudah itulah yang kita sebut domestikasi, baru kemudian kita rilis,” terang Idil.


Dari rilis yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ikan cupang alam (Betta channoides) merupakan kategori ikan mouth breeder, yaitu ikan yang telurnya dierami secara alami di mulut hingga menetas dan menjadi larva selama kurang lebih 10 – 15 hari. Namun dalam proses budidaya, larva akan dikeluarkan dari mulut induk jantan dengan cara pengocokan pada hari 6 – 8 pengeraman.


Meskipun tidak alami, jumlah larva lebih banyak dan sintasan larva dapat bertahan hingga 80%. Jika dibiarkan hingga 15 hari, meskipun sintasannya lebih tinggi, namun jumlah larva yang dihasilkan lebih sedikit. Dan jika dikalkulasikan, dengan intervensi memang jauh lebih tinggi hasilnya dibanding secara alami.


Cupang ini merupakan salah satu ikan cupang alam yang memiliki bentuk kepala seperti ular dan memiliki kemiripan dengan kepala ikan gabus (Channa sp.), dan merupakan ikan endemik Kalimantan Timur. Ikan ini merupakan salah satu cupang alam yang cukup populer karena warnanya yang cukup menarik. Jantan berwarna merah kecoklatan dengan adanya garis putih disiripnya, sementara betinanya berwarna lebih pucat. Ikan cupang dewasa dari jenis ini memiliki ukuran paling panjang 5 cm.


 


Per Desember ini, KKP pun merilis Betta channoides hasil domestikasi ke masyarakat umum. Setelah beberapa waktu ikan ini telah melalui kegiatan uji coba budidaya dahulu sejak MeiNovember tahun ini. Idil dalam laporan rilisnya menyebut, uji coba dilakukan dengan menye rahkan 30 pasang induk dan perlengkapan budidaya kepada tiga pembudidaya yang berada di bawah bimbingan Balai Benih Ikan Kota Depok.


Sejak awal hingga akhir pelaksanaan kegiatan, para pembudidaya pun mendapatkan bimbingan tentang teknik budidaya ikan Betta channoides oleh peneliti BRBIH. Dengan bermodalkan benih sebanyak 30 pasang, tiga pembudidaya tersebut telah menghasilkan sebanyak 268 larva per November 2019 dan terus bertambah hingga hari ini. “Hal tersebut membuktikan bahwa para pembudidaya telah berhasil mengadaptasikan teknologi budidaya ikan hias cupang alam ini dan telah menghasilkan larva dan benih,” tutur Idil


Dengan dirilisnya salah satu ikan hias endemik Indonesia ini, diharapkan pula pamor ikan hias semakin menanjak. Tidak hanya diminati karena dari segi harga, tapi juga bersaing dari segi kualitas dan keunikannya. Karena terang Idil, ikan hias itu yang dijual adalah keunikannya.


“Berbeda dengan ikan konsumsi. Ikan konsumsi kan rasanya kalau ikan hias kan indahnya. Sehingga kita pun dari balai turut serta mengembangkan ikan hias melalui perekayasaan untuk membuat ikan ini lebih cantik, lebih indah, serta lebih unik,” ujar Idil. Hal ini pun diamini Sekretaris Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Maman Hermawan ditemui dalam kegiatan rilis di BRBIH barubaru ini. Potensi cupang dalam negeri pun diharapkan bisa meningkat pamornya. “Indonesia dikenal sebagai sumber ikan cupang alam terbesar di dunia. Namun demikian, ikan cupang alam masih belum mendapatkan perhatian yang layak dari para penggemar domestik, padahal permintaan ikan cupang alam dari luar negeri cukup tinggi,” tutur Maman.


Pemerintah pun ingin terus meningkatkan kontribusi ikan hias nasional. Hal ini antara lain diungkapkan pula oleh Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto beberapa waktu lalu di Jakarta. Dimana menurutnya, merupakan suatu tugas mulai memasyarakatkan dan mempromosikan ikan hias Indonesia kepada masyarakat. “Apalagi Indonesia dijuluki sebagai home of hundreds exotic ornamental fish species karena potensi ikan hias yang melimpah”, Slamet. KKP mencatat di Indonesia, setidaknya ada 4.720 jenis ikan baik tawar maupun laut, dan 650 spesies diantaranya adalah ikan hias. Dalam kurun waktu 2015 hingga 2018 produksi ikan hias mengalami peningkatan ratarata sebesar 13,17% per tahun. Komoditas yang meningkat cukup signifikan yaitu Guppy (82,5%), Koki (61,7%), Corydoras (38,6%), Cupang (16,4%) dan Koi (8,9%).


 


Sumber: TROBOS EDISI 91 l Tahun VIII l 15 Desember 2019 - 14 Januari 2020